Pengolahan tanah (garu dan kair)

c. Penggaruan

Pengaruan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah yang besar setelah dibajak.   Pada implement garu terdapat ‘gang’ yang berlawanan arah yang menggerakkan tanah berlawanan arah sehingga tanah menjadi lebih hancur.   Jika kondisi tanah setelah proses pembajakan cukup hancur, penggaruan bisa tidak dilakukan untuk menghemat biaya dan waktu.   Pengolahan tanah dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Pola kerja yang digunakan umumnya mengunakan pola circuitous rounded corner  dan metode belok U-Shape Turning.  Akan tetapi, ada juga yang menggunakan pola headland pattern from back furrow atau sama dengan pola pembajakan.  Traktor berjalan tegak lurus dengan alur bajakan.   Gigi yang digunakan adalah high 2 atau kelinci dua (istilah dari operator).   Traktor pada kegiatan penggaruan berjalan cukup cepat dengan kecepatan 1.16 – 1.39 m/s (lampiran 6) karena penggaruan lebih ringan dari kegiatan pengolahan tanah sebelumnya (pembajakan dan ripper).  Kapasitas lapang dari hasil pengukuran diperoleh 1.23 ha/jam dengan efisiensi 87.2 %, sedangkan dari data bagian mekanisasi kapasitas lapangnya adalah 0.60 ha/jam – 0.65 ha/jam.

penggaruan

Gambar1. Pola penggaruan
Read the rest of this entry »

Pengolahan Tanah Pada Budidaya Tebu (Ripping dan bajak)

Bagian Mekanisasi PG. Subang sedang mengupayakan minimum tillage pada pengolahan tanah yang akan ditanami tebu.   Pengolahan tanah diupayakan seminimal mungkin untuk menghemat biaya dan waktu.   Lahan diperlakukan sesuai dengan kondisi kualitas tanah.   Berbagai kasus urutan pengolahan tanah yang pernah ditemui selama pelaksanaan praktek lapang adalah :

Perbedaan pola pengolahan tanah didasarkan pada kondisi lahan yang akan dikerjakan.  Sebelum dilakukan kegiatan pengolahan tanah, lahan diperiksa terlebih dahulu kondisinya terutama pada aspek kegemburan tanah.  Pemeriksaan konidsi tanah dilakukan secara visual oleh mandor dan secara teknik oleh tim litbang.

a. Pemecahan Tanah Subsoil (ripping)

Pemecahan tanah (ripping) merupakan kegiatan pengolahan tanah awal sebelum pengolahan tanah berikutnya.   kegiatan ini bertujuan untuk memecah bagian subsoil tanah dengan kedalaman 45-50 cm dan menghancurkan guludan.   Pemecahan tanah dilakukan jika kondisi tanah mengalami pemadatan akibat lalu lintas traktor, truk, dan trailer yang masuk ke dalam lahan.   Namun, jika tanah tidak mengalami pemadatan, kegiatan ini tidak dilakukan untuk menghemat biaya dan waktu.   Keputusan untuk melakukan pekerjaan ripping berada pada Sinder Koordinator Kebun (SKK) berdasarkan hasil laporan dari mandor.  Pengujian kepadatan tanah biasanya dilakukan oleh tim litbang PG.  Subang.  Pemadatan tanah diukur dengan menggunakan penetrometer.  Pengukuran pemadatan tanah juga bisa dilakukan secara indrawi oleh mandor yang hasilnya akan dilaporkan kepada SKK.

Implement yang digunakan pada kegiatan pemecahan tanah adalah ripper.   Impelent ini memiliki tiga buah mata dengan jarak antar mata adalah 125 cm.   Sedangkan traktor yang digunakan adalah traktor John Deere 8200 yang memiliki tenaga 200 hp dan traktor john Deere 7710 yang memiliki tenaga 150 hp dengan sistem roda bergerak 4 WD.   Untuk ripper dibutuhkan tenaga yang besar, minimal 150 hp, karena untuk memecah lapisan keras tanah pada subsoil merupakan kegiatan berat.
Read the rest of this entry »

Budidaya Tebu di PG Subang

Budidaya tebu (Sacharum officinarum L) secara umum dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penanaman bibit (plan cane) dan penumbuhan kembali tebu sisa tebang (ratoon cane).   Penanaman plant cane dilakukan pada lahan yang baru dibuka dan  lahan tebu yang sudah dua kali ratoon cane atau tiga kali tebang.   Plant cane juga dilakukan pada lahan yang digunakan khusus untuk bibit.   Pada lahan bibit tidak diterapkan proses ratoon cane.   Ratoon cane dilakukan pada lahan tebu untuk giling.   Satu petak lahan biasanya dilakukan dua kali ratoon cane dalam tiga periode tebang dan satu kali plant cane.   Namun, pola ini bisa saja berubah tergantung pada kualitas tebu yang dihasilkan.

Pada proses budidaya plant cane, lebih banyak kegiatan yang dilakukan dari pada ratoon cane.   Kegiatan plant cane utama yang tidak ada pada ratoon cane adalah pengolahan tanah dan penanaman.   Pengolahan  tanah adalah kegiatan yang paling berat selama proses budidaya, karena itu pengolahan tanah dilakukan secara mekanis sepenuhnya.

Petak lahan yang ditanami oleh tebu dengan tujuan giling disebut Kebun Tebu Giling (KTG).   Untuk petak yang ditanami plant cane disebut KTG I, sedangkan ratoon cane disebut KTG II dan KTG III.   Bibit yang ditanam untuk KTG I berasal dari petak lahan bibit yang disebut Kebun Bibit Dasar (KBD).   Tebu yang ditanam di KBD berasal dari kebun bibit yang lain.   Di luar KBD ada empat jenis kebun lain yang ditanami untuk kepentingan pembibitan.
Read the rest of this entry »

Mimpiku untuk membangun pertanian masa depan

traktor

traktor

Semenjak aku masuk IPB, tertanam sebuah mimpi tuk jadi petani. Menjadi seorang petani,tapi bukan petani biasa. Mungkin ketika kebanyakan orang mendengar kata petani atau pertanian, yang terpikir di kepala mereka adalah petani kotor, miskin, kerja otot, panas-panasan, cangkul, bajak, kerbau, sapi, sawah, dan yang lainnya. Pikiran itu memang tidak salah. Kenyataannya begitulah petani.

Tapi aku ingin menjadi seorang petani yang berbeda. Aku anak IPB masa jadi petani biasa. Aku ingin membangun sebuah pertanian masa dpan di masa kini. Langkah pertama yang aku lakukan tentunya belajar banyak hal tentang pertanian di tempatku kuliah, IPB. Kemudian menyusun konsep pertanian masa depan itu seperti apa. Sekarang konsep pertanian masa depan itu hanya baru ada di kepalaku, belum aku tulisakan secara terstruktur atau pun secara ilmiah. Ya, maklum orang masih dalam tahap belajar.

Konsep pertanian masa depan dikepalaku terus bertambah, dievaluasi, dan direvisi berdasarkan
Read the rest of this entry »

VISI PERTANIAN ABAD 21

keterangan: Tulisan ini merupakan salah satu isi dari buku materi kuliah Pengantar Ilmu Pertanian (PIP), dan diketik ulang

Pernyataan Visi

Sehubungan dengan kondisi komparatif yang dimiliki oleh sector pertanian dan  nilai strategisnya bagi pembangunan Negara, sementara di lain pihak kontribusi ekonomi sector pertanian dewasa ini semakin menurun, maka diperlukan suatu paradigma pembangunan pertanian baru dalam menghadapi abad 21. Paradigma pembangunan pertanian baru yang paling tepat untuk mengantisipasi era globalisasi dan perdagangan bebas adalah Pertanian Bekebudayaan Industri.

Pertanian berkebudayaan industri adalah suatu system terpadu industri biologis yang merupakan hasil karya, cipta, dan rasa manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya biologi beserta ekosistemnya; berorientasi pada efisiensi, produktivitas, kualitas serta nilai tambah secara berkelanjtuan dan berwawasan lingkungan; melalui penerapan iptek dan manajemen agribisnis secara terpadu dan dikerjakan oleh pelaku pertanian profesional yang memiliki azas kerja industri dan karakteristik social budaya bangsa ber-Pancasila; ditujukan bagi seluruh bangsa Indonesia yang berprinsip pada keadilan dan kesejahteraan.

Melalui pembangunan pertanian berkebudayaan industri, diharapkan sector pertanian bersama sector unggulan lainnya (seperti industri manufaktur dan jasa) dapat menjadi penggerak utama pembangunan nasional dalam mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta masyarakat adil dan makmur yang diberkahi oleh Tuhan YME di tengah kancah globalisasi dan perdagangan bebas abad 21.

Misi dan Tujuan

Visi pembanguan pertanian abad 21bmerupakan kondisi ideal yang diinginkan. Untuk mewujudkan kondisi ideal tersebut, maka perlu dirumuskan misi pembangunan pertanian ini sangat penting mengingat visi dan misi merupakan pijakan dasar yang hendak dicapai atau tujuan diharapkan.

Misi

  1. Menciptakan produk dan jasa pertanian yang berdayasaing dan bernilai tambah tinggi.
  2. Memelihara kelestarian lingkungan dan berkelanjutan pembangunan pertanian
  3. Meningkatkan dan meratakan kesejahteraan bangsa dan rakyat Indonesia pada umumnya, dan pelaku pertanian pada khusunya
  4. Meningkakan kontribusi pertanian dalam ekonomi nasional.

Tujuan

  1. Meningkatkan taraf hidup petani, khususnya petani kecil, melalui peningkatan pendapatan dan nilai tambah dari kegiatan usaha pertaniannya.
  2. Meningkatkan kemampuan petani serta daya saing produk dan jasa pertanian nasional dalam persaingan pasar bebas.
  3. Mencegah degradasi lingkungan akibat kegiatan pertanian dan kegiatan sector lain, sehingga dapat menjaga keseimbangan dan keberlanjutan ekologis.
  4. Menjamin ketahan pangan nasional secara proposional, bermutu dan aman.
  5. Me,anfaatkan SDA secara rasional guna menjamin kegiatan pembangunan pertanian secara berkelanjutan

Hakekat dan Karakteristik Pertanian Berkebudayaan Industri

Atas dasar pengertian visi dan misinya, maka PPBI memiliki ciri atau karakteristik bagi pelaku atau SDM pertanian, system pengelolaan sumberdaya, khususnya sumber daya; alam lingkungan;; pengertian system dan kelembagaan pertanian; dan pengertian IPTEK yang digunakan.

Ciri Sumberdaya Pertanian

Ciri manusia pertanian Indonesia masa depan dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bersikap dan berpikir maju dengan memanfaatkan pengetahuan sebagai landasan utama pengambilan keputusan.
  2. Memiliki keahlian (profesionalisme) sebagai karakter yang menonjol.
  3. Berperilaku kooperatif yang bersifat dinamis dan fleksibel.
  4. Menghasilkan mutu dan keunggulan sebagai orientasi dan tujuan dalam bertindak.
  5. Melakukan efisiensi dan produktivitas sebagai landasan utama dalam pengelolaan sumberdaya.
  6. Menggunakan kemajuan teknologi sebagai instrument utama dalam pemanfataan sumberdaya.
  7. Memanfaatkan mekanisme pasar sebagai media utama dalam transaksi barang dan jasa.
  8. Memanfaatkan perekayasaan yang harmonis dengan alam, budaya, dan lingkungan di sekitarnya.
  9. Berkemampuan mempertahankan dan menjaga potensi alam dan budaya yang luhur dari proses degradasi.